Selasa, 31 Mei 2011

utri Nan Jogi dan asal Muasal Markoum Marsisolkot (Dalian Na Tolu)

P  Tersebut dalam sebuah kisah. Dahulu kala hiduplah seorang putri yang nan cantik jelita. Putri yang telah menginjak remaja ini (sweet seventeen) saking cantiknya tidak ditemukan bandingannya. Berkulit kuning langsat nan mulus dengan rambut panjang hitam nan lebar tergerai sampai melewati pinggulnya. Bila dia berjalan, maka banyak pemuda yang tertunduk malu ketika berpapasan dengannya membuat pemuda pada zaman itu menjadi lupa daratan dan ingin selalu melihat sang putri pujaan hati. Pada suatu hari, datanglah utusan putera orang terkemuka di daerah itu untuk meminang puteri Nan Jogi yang telah membuat sang pemuda jatuh cinta. Dahulu kala perjodohan anak-anak gadis ditentukan oleh para orang tuanya menurut adat-istiadat pada zaman itu, maka Patuan Kombang-pun sang ayah dari putri Nan Jogi menerima pinan¬gan orang tersebut setelah melalui musyawarah dan kesepakat bersama. Uang hantaran atau mas kawinn berupa emas dan permata diberikan. Rupanya tak disangka, puteri Nan Jogi tidak bersedia dikawinkan oleh ayahandanya, Patuan Kombang kepada putera bangsawan tersebut. Sang puteri melakukan pemberontakan kepada sang ayah atas keputusan yang dirasakannya sepihak tanpa ada pemberitahuan kepadanya –red-. Ternya sang putri secara diam-diam (back street –red-) telah menjalin cinta dan mengikat janji setia dengan seorang pemuda pujaannya. Mengetahui akan hal itu sang ayahanda tak dapat menahan murkanya kepada sang puteri, karena dianggap tidak mematuhi kemauan orang tua dan memberi malu kepada keluarga.

Sang ayahanda tetap memaksa puteri Nan Jogi untuk menerima pinangan dari "koum"-nya tersebut beserta mas kawin yang telah disepakati bersama. Kemudian memberikan mas kawin tersebut kepada puterinya agar menyimpannya dengan baik-baik. Tetapi apa gerangan yang terjadi setelah puteri Nan Jogi menerima emas dan permata tersebut dari tangan ayahandanya, puteri Nan Jogi berlari ke pinggir sungai Batang Gadis lalu melemparkan emas dan permata (mas kawinnya) itu ke tengah-tengah sungai yang besar dan deras itu. Alangkah marahnya Patuan Kombang pada saat itu, dengan sekali lompat beliau telah berada di tengah sungai untuk mengambil emas dan permata yang dilemparkan oleh puterinya itu, tetapi malang baginya emas dan permata itu telah hilang dibawa arus sungai yang deras. Amarah Patuan Kombang semakin meluap-luap dan dengan mata yang merah menyala, beliau mengeluarkan tenaga dalamnya sambil membacakan mantera-mantera kesaktian. Dengan sekali lompatan Patuan Kombang melesat tinggi ke udara lalu menerjang dinding sungai yang besar itu beberapa kali seakan Rudal Scudh Irak, menghancurkan tebing sungai tersebut dengan diikuti oleh derasnya air sungai menerobos dan menghanyutkan segala yang menghalanginya mengalir ke tempat yang terendah melalui daerah Saba Jior, Tarutung, Barbaran sampai ke arah hilir ke dekat perkampungan Huta Bargot menuju lebih ke hilir dan bersatu dengan sungai Batang Angkola sebelum memasuki terowongan Loncatan Hari-mau.

Akibat dari ulah Patuan Kombang memindahkan aliran sungai Batang Gadis tersebut maka keringlah bekas aliran sungai tadi ke daerah Siombul tempat pemukinan mereka itu hingga sampai ke wilayah Pidoli Dolok, Salambue Banjar Sibaguri, Mompang Jae Mompang Julu, Malintang Sinonoan, Pintu Padang Julu terus ke Lumban Dolok, dimana yang tadinya sungai itu mengalir melintas di tengah-tengah perkampungan Huraba menuju ke Saba Guntung dekat perkampungan Siabu, kering sama sekali. Setelah sungai itu kering benar kemudian Patuan Kombang kembali mendapatkan emas dan permatanya lau kemudian segera memulangkannya kepada pemiliknya atau "koum"nya. Dimana menurut ceritanya Patuan Kombang diharuskan mengembalikannya dua kali lipat berdasarkan keputusan sidang adat mereka pada zaman itu. Mulai dari saat itulah puteri Nan Jogi yang cantik jelita menghi¬lang ceritanya dan tidak pernah lagi dinampakkan tentang keturu¬nan dan riwayat kehidupannya. Dan oleh karena Patuan Kombang bersama "Kahanggi"-nya tidak dapat menempati janji memberikan anak gadisnya kepada orang yang telah menghantarkan mas kawin, mereka ia merasa sangat malu dan kehilangan muka kepada orang banyak. Oleh karena itu pulalah menurut cerita, bersama pengikutnya meninggalkan pemukiman Siombul dan pergi membuka pemukiman baru yang mereka memberi nama "Huta Lobu Manda¬la Sena" (Aek Marian) yang sekarang.

Akan tetapi, tidak berapa lama kemudia, terserap kabar, puteri Nan Jogi telah melangsung pernikahan dengan Namora Raya Raja Dandani (marga Lubis) ke Ayuara Sampean Roburan Tua untuk menge¬sahkan dan mengukuhkan adat-istiadat Mandailing "Markoum Marsi¬solkot", yang disaksikan dan direstui oleh seluruh raja-raja Mandailing sebagai mana yang diceritakan oleh Mangaraja Lelo Lubis dalam bukunya "Sopo Godang Mandailing" (hal 176) antara lain dituturkan adalah sebagai berikut:

Karena Datu Janggut Rangkuti seorang dukun besar dan Namora Raya ke Roburan sengaja membendung Rangkuti jangan sampai ke Juluan, maka Namora Raya berusaha berdiplomasi mengambil hati. Namora Raya mengambil iboto ni Datu Janggut menjadi isterinya. Namora Raya (Lubis Roburan) marmora Rangkuti Aek Marian. Anak Namora Raya Datu Tolpang dengan tipu dan keker¬asan mengambil boru tulangnya (boru ni Datu Janggut) untuk jadi isterinya ibu si Tapi Sumarsar Naboru dst.

Bila diperhatikan tulisan Mangaraja ini jelaslah bagi kita bahwa puteri Nan Jogi bukanlah menghilang seperti yang diceritakan oleh sebagian orang, tetapi telah menjadi permaisuri Namora Raya Raja Dandani dari kerajaan marga Lubis di Ayuara Sampean Roburan Tua. Barangkali itulah sebabnya puteri yang cantik jelita ini menolak dijodohkan oleh ayahandanya Patuan Kombang kepada seorang pemuda yang belum pernah dikenalnya, apalagi barangkali puteri yang cantik ini telah lebih dahulu menjalin cinta kasih sayang bahkan telah mengikat janji sehidup semati dengan seorang pemuda yang ganteng, gagah dan perkasa yaitu Namora Raja Dandani yang bermula berasal dari kerajaan Lubis Muara Patontang Singengu. Dan pada saat berkumpulnya seluruh raja-raja Mandailing atas undangan Namora Raya Raja Dandani untuk merampungkan adat-istiadat Man¬dailing "Markoum Marsisolkot", memperagakan upacara perkawinan menurut adat-istiadat yang baru diseragamkan itu antara si Baroar Nasakti dengan si Rumondang Bulan puteri Sutan Pulungan dan Namora Raya sendiri dengan boru Rangkuti (adik kandung Datu Janggut Marpayung Aji). Dan oleh sebab itulah nama Namora Raya ditambah dengan "Raja Dandani" atau lengkapnya "Namora Raya Raja Dandani", untuk mengingat kesungguhan dan keberhasilannya menda¬maikan peperangan antara si Baroar Nasakti dengan Sutan Pulungan dan sekaligus memprakarsai pembentukan adat-istiadat Mandailing "Markoum Marsisolkot" atau adat-istiadat "Dalihan Na Tolu" seba¬gai alat pemersatu bagi seluruh masyarakat Mandailing.

Bila kita teliti dengan seksama para peserta undangan Namora Raya Raja Dandani dimana seharusnya Patuan Kombang-lah yang sebaiknya datang menghadiri pertemuan Raja-raja Mandailing yang bersejarah itu mengingat nenek moyang inilah sebagai sesepuh yang dituakan dikalangan marga Rangkuti di daerah Siombul ini, tetapi kendati¬pun demikian untuk menjaga perasaan hati "koum"nya yang dipermalukan oleh borunya (puteri Nan Jogi) terpaksa nenek moyang ini mengirimkan puteranya yaitu Datu Janggut Marpayung Aji sebagi utusan resmi dari kerajaan marga Rangkuti.

Adat-istiadat Markoum Marsisolkot atau adat-istiadat Dalihan Na Tolu merupakan pusaka nenek moyang orang Mandailing. Dimana telah terbukti kebaikan dan keampuhan adat-istiadat ini untuk mengharuskan masyarakatnya saling hormat-menghormati dan sayang menyayangi dalam menempuh kehidupan dan menjalin persaudaraan yang akrab serta sopan santun dalam pergaulan sehari-hari semen¬jak dari zaman dahulu kala, atau semenjak dari abad ke XIV (baca, empat belas) hingga pada zaman modern sekarang ini masih relevan dan agung untuk diayomi sebagai menunjukkan identitas yang asli orang Mandailing.

Pada generasi selanjutnya dari "Anak Boru" marga Rangkuti ini (marga Lubis) yaitu "Anak Boru Haholongan" na marsoit marbulele dohot na marjambang mareor-eor ialah bernama si Juhar gelar Datu Tolpang, dimana dikatakan juga mengambil atau mengawini "boru tulang"-nya marga Rangkuti ini yang bernama puteri Nan Janggeas yaitu puteri Datu Janggut Marpayung Aji, seperti yang tertulis dalam buku Mangaraja Lelo Lubis di atas. Dengan demikian telah dua sundut (dua generasi) marga Lubis mengambil boru Rangkuti

Secara berturut-turut, sejak awal terciptanya adat-istiadat "Markoum Marsisolkot" pusaka orang Mandailing tersebut. Dengan perkataan lain marga Lubis harus menghormati dan memuliakan "Mora"-nya yaitu marga Rangkuti sepanjang zaman, demikian pula sebaliknya marga Rangkuti harus menyayangi "Anak Boru"-nya yaitu marga Lubis sepanjang zaman sesuai dengan tuntutan adat-istiadat Mandailing "Markoum Marsisolkot" tersebut di atas. Meskipun sebenarnya perkawinan keturunan marga Lubis dengan "boru" keturunan marga Rangkuti atau sebaliknya telah berlangsung lama, bahkan telah beribu pasangan "Rudang-Rudang Nauli" boru Rangkuti yang telah dipersunting oleh "Naposo Bulung" marga Lubis tanpa dianjurkan dan telah mengikuti jejak nenek moyangnya dari dahulu kala sampai sekarang......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar